Sabtu, 20 Maret 2010

Kemiskinan pun Dijadikan Tameng


AIR matanya tak henti-henti mengalir. Sesekali ia palingkan wajah ke ibunya, Belandina Talan, yang duduk di kursi plastik dekat tempat tidurnya. Tak urung, wanita berusia 45 tahun itu pun turut menangis.

Adalah Viktoria Usnaat, 18, tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Desa Bokon, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, yang siang itu tergolek lunglai di tempat tidur, di salah satu ruangan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kefamenanu, Timor Tengah Utara.

Berniat ingin mengumpulkan uang untuk dikirimkan kepada orang tua dan lima saudaranya di kampung, gadis berkulit cokelat kopi itu justru harus menanggung rasa sakit tak berkesudahan akibat mendapat penyiksaan dari majikannya selama bekerja di Malaysia.

Meski berbagai macam siksaan telah dideritanya, mulai dari disiram cairan pemutih pakaian hingga jari tangannya diseterika, niatnya untuk 'membanting tulang' guna turut membahagiakan keluarga tidak surut. "Saya jadi TKI karena ingin mengumpulkan uang untuk memperbaiki rumah di kampung," ujarnya kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Namun suratan takdir menggariskan berbeda. Bukannya membawa segepok uang setelah mengadu nasib di negeri jiran selama 15 bulan, Viktoria pulang hanya mengantongi uang Rp100 ribu dan sejumlah pakaian dalam tasnya. "Saya dipukuli kemudian dipulangkan, tanpa dibayar, ke penyalur tenaga kerja di Malaysia," tuturnya.

Namun memang tidak semua TKI yang bekerja di luar negeri mengalami nasib tragis seperti Viktoria. Paulina Toan, 22, perempuan asal Desa Tunbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, justru mengaku bisa membawa pulang uang tunai Rp18 juta setelah bekerja selama dua tahun di Malaysia. "Saya tidak pernah disiksa. Bahkan, saya akan kembali lagi ke Malaysia dalam waktu dekat," ujarnya kepada Media Indonesia. Dengan uang hasil jerih payahnya itulah, perempuan jebolan sekolah menengah kejuruan itu mengaku telah membangun rumah ukuran 6x9 meter persegi dan membeli tiga ekor sapi.

Dijual Rp800 ribu

Perbedaan nasib kedua pekerja migran itu toh tidak bisa ditebak. Itu sebabnya, animo berangkat ke luar negeri, tetap tinggi. Dinas tenaga kerja (disnaker) setempat bahkan memperkirakan, per minggu ada sedikitnya 1.000 TKI ilegal menyeberang ke negeri tetangga. "Umumnya mereka menggunakan jasa penyeberangan laut," ujar Kepala Disnaker NTT Ignatius Conterius, beberapa waktu lalu.

Tingginya jumlah pemberangkatan TKI ilegal itu, menurutnya, disebabkan maraknya calo yang beredar di desa-desa untuk membujuk warga berusia produktif bekerja ke luar negeri. Dengan iming-iming mulai dari gaji jutaan rupiah hingga membebaskan orang tua dari jeratan kemiskinan, para muda-mudi di NTT pun sering kali tergiur.

Asosiasi Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati) NTT bahkan menemukan fakta bahwa keberadaan para tenaga kerja itu dihargai antara Rp500 ribu hingga Rp800 ribu per kepala. Layaknya jual beli barang, pembeli, yakni para PJTKI bahkan boleh melakukan penawaran. Jika tidak sepakat, transaksi pun bisa gagal.

Modusnya, setelah mendapat calon TKI, para calo membawa mereka ke ibu kota, Kupang, dan menawarkan ke PJTKI. Menurut Kepala Apjati NTT Paul Lyanto, PJTKI berlomba-lomba merekrut tenaga kerja ke Malaysia karena pemerintah tidak sanggup menyediakan lapangan kerja bagi warganya. Pemerintah provinsi, katanya, sudah saatnya menggenjot pembangunan pertanian. "Dengan begitu, warga tidak perlu lagi berbondong-bondong mencari pekerjaan di luar negeri." (Palce Amalo)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar